Sekali lagi R mo ngomongin soul ( hi hi hi, jgn bosen yah :p)

Pernah nonton ”Bicential man” , ”I robot” ato ” AI”?

Ketiga film itu memiliki tipe yg sama, intinya pada suatu masa yg tidak terlalu lama dari sekarang, robot telah berevolusi, memiliki HD,prosesor dan memori berkapasitas tinggi, sehingga pada akhirnya AI bisa dietarapkan dgn nyaris sempurna. (AI= kecerdasan buatan, jadi mesin akan memiliki kemampuan unutk belajar dari pengalaman, bahkan teori extrimnya sih jadi bisa memiliki kepribadian).

Pada semua film ini, dibuat seolah2 mesin itu telah menjadi individu, berjiwa.

Jadi ketika kita menshotdown sama ajah  dgn kita membunuh.

Terus terang film ini bagus bgt dari segi cerita, tapi klo salah2 mengambil hikamah, penonton bisa dipusingkan dgn konsep soul itu sendiri.

Pertanyaannya adalah;

Apakah soul itu adalah memory?

Apakah soul itu adalah kepribadian?

Apakah soul itu kecerdasan?

Klo jawabanya iya, berarti orang2 yg tidak memiliki memory (pikun),ato yg tidak memiliki kepribadian (sakit jiwa) dan yg tidak memiliki kecerdasan ( imbecil, ideot dll) berarti tidak memiliki jiwa dunk?

R cukup lama berkutat dgn pikiran2 itu, sampai akhirnya kemaren2 ini ketika membaca salah satu tafsir al misbah, horizon R terbuka.

Jadi itu semua hanyalah masalah standar.

R dgn tidak adil menggunakan standar R sebagai manusia pada hal2 yg bukan manusia.(padahal maksud awalnyanya mah biar adil tea :p)

Apakah ketika membeli emas kita menanyakan,” mentah gak?”

atau ketika membeli buah, mepertanyakan ”berapa karat?”

beda banget standarnya…..

Masih bingung?

Apakah kita pernah menilai kucing yg tukang gonta-ganti pasangan sebagai playboy?

Atau memuji penguin yang monogami, setia?

Yah masalahnya cuma standar…

Mesin ya mesin, manusia yg bikin, mungkin lebih pintar dari manusia, tapi bukan berarti lebih cerdas. mesin bukan manusia, mereka gak berjiwa, gak berhati, hanya berupa kecerdasan buatan.

Hewan yah hewan…..segala tingkah laku nya mengukuti ketetapanNya, gak memiliki daya dan usaha merubah perilakunya, hidup berdasar pada narluri dan nafsunya semata.

Manusia yah Manusia, jadi sangat memalukan klo ada manusia yg tidak bisa mengontrol hawa  nafsunya, dan menggunakan alasan ” kodrat atu naluri ” sebagai pembenaran atas perilakunya yg tidak manusiawi (ato bahkan tidak robotiawi dan tidak hewaniawi :p),karna manusia diberi akal,  perasaaan serta malu sebagai indikator dan modal awal.

Suatu hal yg mustahil bila yg dicipta bisa melebih sang pencipta……

(wallohuallam)

Btw Bandung skrg dingin bgt yah?

kemaren lewat di depan pengukur suhu-dago, menunjukan  15oC!!!

Brrrrrr……………………beku!!!

Leave a Reply