R baru selesai baca buku mengenai kisah cinta antar seorang pria buta dan ce yg gak buta. Cerita yg romantis n cukup informatif.

Tapi yg mo R bahas bukan tentang cerita kisah cinta mrk ber2.

Jadi dlm buku ini diceritain klo conya jadi model untk salah satu content 3G namanya Welfare telesuport  net

.

Jadi pada content ini, dengan menggunakan video phone, akan menyediakan layanan “penglihatan” bagi para tuna netra.

Data berupa video life feed dari HP ini akan terhubung langsung dgn operator, dan operator yg akan membatu menjelasakan ato menemukan apa yg dicari( menunjukan jalan, menjelasakan barang belanjaan, warna barang, dll)

Tentu content in akan membuat para tuna netra jadi bisa “melihat” dan gak akan ada cerita mereka ditipu gara2 buta.

Tapi bagi R teknologi ini juga menujukan, betapa egoisnya manusia.

Betapa sudah terkikisnya rasa percaya antar manusia.

R emg alhamduliah terlahir sehat n komplit panca indra, tapi bukan berarti R gak butuh bantuan orang.

Tetep ajah R perlu nanyain jalan/angkot(n being me that always mysteriously gets lost-it’s a must :p), nanyain ada tidaknya barang/buku tertentu n posisinya dimana ketika berbelanja, klo belanja kain/baju nanyain “ini teh putih ato broken white sih ?”/”kira2 warna ini cocok gak  klo dipaduin?”,dll.

Betapa menyedihkannya klo untk hal2 seperti ini R mesti membayar?

Betapa menyedihkan klo berpikir: “pingin jawaban jujur? Bayar dulu dunk!”

R gak tau content in udah beneran ada ato enggak, tapi alangkah bagusnya klo kemajuan teknologi yg ada bukan berarti menjadikan manusia “dingin” dan lebih mempercayai teknologi  daripada mempercayai sesama………

Leave a Reply